Selasa, 27 Mei 2008

JELAJAH MALAM KOTA TUA (Sebuah Perjalanan Sejarah)

Selama ini kita mengenal Jakarta sebagai Kota Metropolitan. Kemacetan, padat penduduk, pusat perbelanjaan, gedung pencakar langit dan kehidupan glamour menjadi gambaran Ibu Kota Negara Republik Indonesia. Gambaran kompleks Kota Jakarta telah mencipta kesan tersendiri di benak masyarakat, tidak hanya masyarakat Indonesia tetapi juga dunia. Tak jarang yang mengalami ketakutan untuk mengadu nasib di Jakarta, tapi banyak pula yang bertekad menaklukannya.

Tapi kala memasuki kawasan Kota Tua Jakarta, gambaran tentang Kota Jakarta yang penuh dengan hiruk pikuk dan kesibukan warganya perlahan menguap. Kita seolah mengalami perjalanan sejarah. Setidaknya itulah yang dirasakan oleh peserta Perkemahan Bakti Nasional (PERTINAS) Saka Kencana IV Tahun 2008.

Saat itu PERTINAS IV dilaksanakan di kampung Budaya Betawi, Setu Babakan Kecamatan Jagakarsa-Jakarta Selatan. Dari serangkaian acara, panitia memberikan kegiatan games berupa Jelajah Malam Kota Tua Jakarata. Acara jelajah ini dimulai dengan menampilkan Panggung Musik dan menonton film Zaman Dulu Kota Jakarta di Museum Bank Mandiri. Selanjutnya peserta diajak berkeliling Museum Bank Mandiri, yang menampilkan arsitektur menawan.

Tidak hanya itu, keunikan Kota Tua dapat dinikmati dengan leluasa. Di depan museum Bank Mandiri kita dapat melihat Museum Beos (saat ini dikenal dengan nama Stasiun Jakartakota). Merasakan indahnya malam Kota Jakarta dengan menyusuri Jalan Bank dan Kali Besar, seraya megulang kembali sejarah masa lalu dengan menyimak setiap kisah bangunan-bangunan tua (Museum Jakarta, Toko Merah, Museum Sejarah, Museum Bank Indonesia, museum Keramik dan lain-lain). Dan keindahan Jembatan Intan serta Taman Fatahillah menjadi pelepas lelah yang mengagumkan.


Perjalanan wisata ini begitu menggugah hati. Tidak hanya sebatas penghilang kesuntukan akan aktifitas harian kita. Tetapi kita semakin mendapat gambaran bahwa Indonesia ini memang benar-benar kaya, hanya saja kita belum dapat memanfaatkannya. Sehingga dari dahulu sampai sekarang kita belum dapat berpijak di negeri sendiri (Eka dan Irma).

Jumat, 04 Januari 2008

Aspi in Memoriam

Untuk pertama kalinya --di tahun 2008-- aku kembali ke Asrama Putri (ASPI) MAN Pandeglang --tempat aku menuntut ilmu dahulu. Meski baru hampir dua tahun aku meninggalkan asrama ini --oleh sebab aku lulus di tahun 2006-- aku tetap merasa asing. Memang dari segi tempat dan suasana tak banyak berubah --masih terlihat kumuh bila dibandingkan tempat kosku sekarang-- ada sesuatu yang mengganjal di hatiku.
Setahun lalu, bila aku bertandang ke asrama ada teriakan yang menyambutku. Terikan yang penuh rindu itulah membuatku merasa betah berlama-lama di Aspi. Tapi kini berbeda, hanya beberapa orang saja yang menyambutku dengan hangat, sisanya menatapku dengan pandangan heran dan tanda tanya.
Ah...aku pun sadar, perubahan adalah keniscayaan. Pun begitu dengan keadaan asrama. Meski dunia (baca: asrama) panggug sandiwara masih bertahan, tapi untuk tetap indah pasti akan ada pergantian lakon.